Diplo Recruits Leon Bridges For New Country Crossover Track, “Horizon” [Watch]

first_imgOn Saturday, December 26th, Diplo will perform alongside 40+ other artists as part of Georgia Comes Alive, a one-day virtual music festival aimed at promoting voter participation in the upcoming Georgia runoff elections by supporting local grassroots organizations, Georgia Coalition for the People’s Agenda and CivicGeorgia. Donate any amount to the cause GeorgiaComesAlive.com to receive a stream link on the day of the show (12/26). You can also enter to win exclusive prizes from GCA artists like a guitar signed and played by Bob Weir here. See below for a full list of performers. EDM superstar Diplo has released the deluxe edition of his debut country album, Diplo Presents Thomas Wesley: Snake Oil, which includes previously unreleased collaborations with Texas soul crooner Leon Bridges and rising Nashville star Ernest.The Leon Bridges collab, “Horizon”, channels the smokey, barroom aesthetic often associated with country music as Bridges sings and strums an acoustic guitar. While Diplo—real name Thomas Wesley Pentz—plays the part of the bartender in the clip, his distinct sonics quickly come into play when the dance music-style drums enter the fold. The pop-tinged country collaboration strikes a towering chord as Bridges reaches the song’s chorus: “If you hurtin’, if you searchin’, I’ll be right here where you left me.” Watch the new music video for Diplo Presents: Thomas Wesley’s “Horizon” featuring Leon Bridges below:Diplo Presents: Thomas Wesley ft. Leon Bridges – “Horizon” (Official Music Video)In addition to the music video for “Horizon”, Diplo has shared a new lyric video for the other new Thomas Wesley tune, “Bottles Bout Dead”, which features ERNEST. Check out the lyric video below:Diplo Presents: Thomas Wesley ft. ERNEST – “Horizon” (Official Lyric Video)[Video: Diplo Presents: Thomas Wesley]The original version of the album was released in May and includes the triple platinum single “Heartless” featuring Morgan Wallen, plus collaborations with Thomas Rhett, Young Thug, Zac Brown, Jonas Brothers, Noah Cyrus and more. Listen to the new album on the platform of your choice here or stream it via Spotify below:Diplo Presents Thomas Wesley: Snake Oil (Deluxe) – Full Albumlast_img read more

MSPL gases installs air separation plant for SAIL

first_imgGet instant access to must-read content today!To access hundreds of features, subscribe today! At a time when the world is forced to go digital more than ever before just to stay connected, discover the in-depth content our subscribers receive every month by subscribing to gasworld.Don’t just stay connected, stay at the forefront – join gasworld and become a subscriber to access all of our must-read content online from just $270. Subscribelast_img

Mungkinkah Seluruh Penerbangan Di Masa Mendatang Gunakan Pesawat Listrik?

first_imgIlustrasi bahan bakar amonia sebagai alternatif bahan bakar berkelanjutan pesawat di masa mendatang. Foto: businesstraveller.com Pesawat listrik sejak tahun 1970 sebetulnya sudah dikembangkan oleh banyak pabrikan di dunia. Namun demikian, lagi-lagi, ada konsekuensi besar yang harus dibayar. Bila menggunakan pesawat listrik, beban dan durasi penerbangan harus lebih kecil dari pesawat berbahan bakar cair atau fosil.Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!Paul McElroy, pimpinan tim komunikasi untuk Boeing 777 ecoDemonstrator, pernah mengatakan, dengan menggunakan bahan bakar pesawat berkelanjutan (SAF) niscaya dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca bersih hingga 80 persen. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang melepaskan karbon serta meningkatkan jumlah CO2 di atmosfer. Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan. Namun, analisis penerbangan memperkirakan bahwa lalu lintas penumpang akan naik 3,5 persen per tahun hingga 2037. Bila itu terjadi, tentu persentase sumbangan emisi karbon dunia dari perjalanan udara akan semakin meningkat.Dari sekian banyak pabrikan pesawat, Airbus adalah raksasa dirgantara pertama yang menerapkan SAF pada pengiriman pesawat ke para pelanggannya. Hal itu adalah bagian dari komitmen Airbus dalam program Initiative Towards sustAinable Kerosene for Aviation (ITAKA) yang bertujuan untuk mempercepat komersialisasi SAF di Eropa.Airbus mengaplikasikan SAF tersebut dengan mengangkut komponen rakitan besar, seperti bagian sayap dan badan pesawat, menggunakan Super-Transporter Beluga. Pesawat tersebut sudah menggunakan bahan bakar pesawat berkelanjutan, berasal dari minyak goreng daur ulang. Diharapkan hal ini akan mengurangi emisi CO2 sekitar 120 metrik ton per bulan dari proses penyatuan perakitan, kira-kira setara dengan yang dikeluarkan sekitar 130 mobil.Dikutip dari sandiegouniontribune.com, sebetulnya, di beberapa negara (bukan hanya pabrikan) sudah mulai menerapkan kebijakan mendorong penggunaan energi hijau (ramah lingkungan) pada pesawat. Ambil contoh Norwegia. Negara yang terletak di Semenanjung Skandinavia bagian ujung barat yang berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia tersebut sudah mulai melakukan kajian-kajian untuk mewujudkan pesawat listrik menguasai udara di masa mendatang. Salah satunya melalui Norway Research Association.Norway Research Association ditugaskan oleh pemerintah Norwegia, bekerjasama dengan beberapa negara lain, untuk mempelajari teknologi baterai yang pas dan mencari tahu persepsi publik terkait pesawat listrik, dengan nilai investasi US$1,65 juta atau Rp25,3 miliar (kurs 15,370). Meskipun belum menemukan hasil yang memuaskan, namun pemerintah sudah berikrar akan membuat seluruh penerbangan jarak pendek dalam negeri di Norwegia wajib menggunakan pesawat listrik pada 2040.Sejalan dengan pemerintah, penduduk Norwegia yang berjumlah sekitar 5,4 juta orang juga sudah menyadari betapa pentingnya penggunaan energi terbarukan di dunia penerbangan. Tak hanya itu, mereka juga mulai mengkampanyekan “flight shaming”, guna membuat orang-orang di sekeliling mereka yang masih bepergian menggunakan pesawat agar merasa malu karena telah menyumbang percepatan pemanasan global dan mendorongnya untuk beralih ke moda transportasi lain, terutama kereta.Seorang peneliti energi dan transportasi di University College London, Andreas Schafer, mengatakan, untuk mewujudkan penggunaan pesawat listrik di masa mendatang butuh investasi yang tak sedikit. Misalnya, untuk biaya pengembangan baterai saja, setidaknya butuh sekitar US$23 miliar atau Rp353 triliun. Prinsipnya, bagaimana caranya membuat baterai dengan ukuran kecil atau paling tidak seperti ukuran baterai yang ada saat ini (baterai pesawat) namun dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Tak hanya itu, pengembangan baterai juga mencakup durasi pengisian daya yang harus jauh lebih cepat dari yang sudah ada.Itu baru baterainya saja. Untuk mengembangkan pesawat listrik yang sepenuhnya baru, seperti desain canggih, kemampuan jarak pendek, dan ruang yang sempit, setidaknya juga membutuhkan investasi sekitar US$23 miliar. Tentu saja angka tersebut belum termasuk dana tambahan ketika terdapat kendala di sana sini.Baca juga: Inilah Enam Teknologi Terdepan untuk Tingkatkan Efisiensi Bahan Bakar PesawatSelanjutnya, balik lagi pada poin awal, bila menggunakan pesawat listrik, beban dan durasi penerbangan harus lebih kecil dibanding pesawat berbahan bakar cair atau fosil. Padahal, di saaat yag bersamaan, tren penerbangan dunia, setiap tahunnya terus mengalami lonjakan. Artinya, saat proses transisi terjadi, akan ada ‘kekacauan’ besar. Di satu sisi pesawat tak sanggup terbang jauh dan terdapat kekurangan di sana sini, di sisi lain, kebutuhan penumpang terhadap pesawat semakin dinamis. Tentu bisa dibayangkan apa yang terjadi.Pada akhirnya, untuk mewujudkan mobil listrik lebih banyak dari pada mobil berbahan fosil saja sejauh ini prosesnya masih jauh dari kenyataan. Apalagi pesawat, yang mekanismenya jauh lebih rumit ketimbang mengoperasikan mobil listrik di darat.Share this:Click to share on Twitter (Opens in new window)Click to share on Facebook (Opens in new window)Like this:Like Loading… RelatedLima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!21/02/2020In “Analisa Angkutan”Inilah Enam Teknologi Terdepan untuk Tingkatkan Efisiensi Bahan Bakar Pesawat20/03/2020In “Destinasi Udara”Bahan Kimia Penyebab Ledakan di Beirut Jadi Alternatif Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan25/08/2020In “Analisa Angkutan”last_img read more

Sri Lanka takes unassailable 2-0 lead in their ODI series with Bangladesh

first_img(ESPN) Sri Lanka yesterday romped to a seven-wicket victory over Bangladesh to go 2-0 up and claim a series win with one game left to play.  Bangladesh got off to a steady start having chosen to bat first, but when Soumya Sarkar missed a full toss from Nuwan Pradeep and was trapped plumb in front the first inklings of worry would have entered their minds. Such concerns worsened when Tamim Iqbal chopped on just a couple of overs later to leave the visitors 31/2. Mushfiqur Rahim set about rebuilding the Bangladeshi innings, but wickets continued to tumble at the other end as Dananjaya accounted for both Mohammad Mithun and Mahmudullah through changes of flight and pace.  Bangladesh fell further to 117/6, before Mehidy Hasan provided the only real support to Mushfiqur’s resistance as the pair combined for an 84-run partnership. He hit six fours in his 43, before trying one shot too many and mishit a slower ball from Pradeep to give a simple catch to mid-off. Mushfiqur meanwhile ended just two runs short of what would have been a superb century as he shepherded his side to 238/8, his 98* coming from 110 balls with six fours and one six.It was a slow pitch, and Bangladesh would have felt in with a chance of defending their total, but any such hopes were quickly put to bed as young gun Avishka Fernando dominated an opening stand of 71 with captain Dimuth Karunaratne. After the skipper departed for 15, bowled by a quicker ball from Mehidy, Fernando combined with Kusal Perera for another fifty partnership before the opener was dismissed by Mustafizur Rahman in the 21st over for a 75-ball 82.  Bangladesh gave themselves a small glimmer of hope when Mustafizur also picked up the wicket of Perera, leaving Sri Lanka three down and needing 93 runs on a tricky surface. However, Kusal Mendis (41*) and Angelo Mathews (52*) remained calm under the pressure and their unbroken 96-run stand saw Sri Lanka home with more than five overs to spare.Bangladesh now head into the final ODI, to be played at the same venue on Wednesday, hoping to avoid a whitewash, but if they are to do so they will need more than just Mushfiqur to score runs.last_img read more